Berhemat saat Belanja Keperluan Bayi

Sejak awal-awal kehamilan, aku mulai mencari informasi keperluan newborn baby yang wajib dimiliki. Daftar yang kubuat dari yang detail hingga beberapa tereliminasi karena seiring banyaknya aku mencari informasi, banyak tips yang kutemui untuk menghemat pengeluaran. Apalagi kecenderungan pasangan muda yang sedang menanti kelahiran anak pertama akan belanja selengkap-lengkapnya dan mungkin juga dalam jumlah barang yang cukup banyak.

Yang kupelajari dari informasi yang kudapatkan baik dari membaca blog, tips di berbagai sumber baik internet maupun buku, dan juga share dari kakakku dan teman-temanku, yakni:

Barang-barang lungsuran yang kuperoleh

Barang-barang lungsuran yang kuperoleh

  • Manfaatkan lungsuran, ga perlu malu..:), apalagi sama sendiri. Aku mendapat banyak barang lungsuran dari keponakanku yang kebetulan saat kami menikah dia baru terlahir sebulan dan merupakan anak terakhir kakakku. Walaupun keponakanku perempuan, tidak masalah, warna yang sangat perempuan dan model baju anak perempuan dapat kita simpan dulu, walaupun si dede berjenis kelamin laki-laki, tapi nanti anak kedua atau ketiga mungkin perempuan. Hmm.. cukup banyak yang kuperoleh, bahkan kado-kado untuk keponakanku yang belum terpakai juga diberikan..:), asyiiiik, kuperkirakan total dari lungsuran menghemat hampir 40 persen budget pengeluaran untuk belanja keperluan bayi;
  • Beli dalam jumlah secukupnya, jangan kalap, rata-rata aku membeli dalam jumlah 6 buah saja untuk pakaian (baju lengan panjang, lengan pendek, baju lutung, dll). Barang-barang yang kami beli yakni barang-barang yang tidak kudapatkan dari lungsuran..:D. Menurutkan 6 buah sudah cukup, selain itu si dede akan kupakaikan clodi, yang juga sudah berfungsi sebagai celana. Jadi sementara 6 buah cukup, apalagi bayi cepat tumbuh. Oiya selain jumlah yang secukupnya saja, kuputuskan juga untuk membeli pakaian bayi ukuran M. Saat di Toko Bayi, aku membandingkan ukuran S dan M tipis sekali perbedaan ukurannya. Merujuk juga ke salah satu bahan referensiku yang juga menyarankan sebaiknya membeli ukuran  M. Kita liat nanti yah dek, kebesaran banget atau kurang ga yah semua pakaian yang dibelikan..:D, kalau kurang, Ayahmu akan sigap sepulang kantor akan langsung mampir ke toko bayi terdekat….;);
  • Berpopok Clodi, si dede akan kupakaikan clodi. Alasan utamaku selain untuk berhemat, aku tidak ingin berkontribusi besar dalam menambah jumlah tumpukan sampah dari pospak di Jakarta..:), walau dalam belanjaku aku membeli satu kemasan pospak newborn, karena aku mau realistis juga, aku akan melahirkan dengan jalan operasi caesar, jadi mungkin butuh waktu penyembuhan paska operasi. Selain itu, si mbak yang membantu mencuci belum berani kulepas benar untuk mencuci clodi tanpa pengawasanku nantinya. Jadi hari awal di rumah mungkin menggunakan pospak. Jumlah clodi yang sudah kumiliki ada 12 buah, dan ada 7 tambahan insert, dan 2 lusin fleece liner. Selain itu aku juga memutuskan untuk mencoba mengunakan menspad dan juga menggunakan breastpad yang dicuci ulang. Semoga setelah kucoba pakai nanti, hasilnya memuaskan.

Oh ya, semua barang yang kubeli berwarna netral, supaya bisa terpakai juga oleh anak-anak berikutnya. Tiga tips diatas kurasakan membantuku untuk berhemat, jujur saja, apalagi untuk pasangan muda. Lebih baik hasil penghematan dana dialokasikan untuk tabungan yang digunakan untuk keperluan lain. Maklum, masih di rumah mertua, dan sedang proses melunasi tanah dan rencana untuk membangun rumah kedepannya. Jadi, mencoba belajar cermat sebelum membeli keperluan si kecil nanti. Walau kuakui, pernak pernik bayi itu sangat menggoda, dari motif, warna, kelembutan dan lainnya. Hehehe.. terbukti, saat aku belanja, Apron untuk ibu menyusui kubeli juga karena tergiur saat ibu lainnya sedang belanja dan mencoba Apron tersebut, motifnya lucu dan bahannya bagus..:D, alhasil yang tidak ada di list jadi dibeli juga. Tapi untunglah segera tersadar untuk membeli yang benar-benar diperlukan.

ITC Kuningan menjadi pilihan kami untuk belanja barang keperluan bayi, setelah mendapatkan info dari banyak sumber, selain lengkap, tentunya harga menjadi pertimbangan kami. Dan benar saja, setiba di toko yang banyak direkomendasikan di ITC Kuningan, yang belanja ramai, baik ibu hamil, ibu yang memiliki batita maupun yang mencari untuk kado. Mba yang melayaniku ramah dan sangat singap dan tidak hanya melayani diriku saja, kusebutkan barang yang kuperlukan, dia dengan lincah melayaniku. Walaupun dapat potongan harga kecil, cukuplah untuk membayar parkir hampir 5 jam disana..:), secara keseluruhan, puas berbelanja disana, berikutnya aku akan selalu kesana sepertinya untuk berbelanja, karena lumayan dekat dengan kantorku juga.

Untuk stroller, car seat, box tidur dan barang-barang besar lainnya belum kami beli. Kami akan pertimbangkan nanti setelah dede lahir, apakah akan benar-benar digunakan dan terpakai maksimal atau tidak barang-barang tersebut. Sementara gantinya kami membeli kasur single lipat untuk sang Ayah, karena akan tidur di bawah, khawatir ga muat kalau tidur bertiga..:D, selain itu membeli lampu tidur otomatis yang menggunakan remote untuk dinyalakan maupun dimatikan, sehingga jika malam si dede terbangun, cukup klik saja untuk menyalakan lampu tidur. Moment belanja sangat menyenangkan apalagi jika kita bisa berhemat sementara semua keperluan wajibnya tetap terpenuhi, dilanjutkan mencuci barang-barang tersebut, merapikannya di lemari pakaian dan wangi pakaian bayi membuat suasana kamar seolah berkata sudah siap menanti kehadiranmu Nak!.

Kontrol Kehamilan

Tahun pertama pernikahan, kami masih tinggal bersama mertua alias didaerah lingkungan suami. Setelah suami bertanya-tanya dengan beberapa temannya yang sudah berkeluarga tentang rumah sakit sekitar dan pengalaman mereka dengan dokter kandungan. Maka rumah sakit yang terdekat aksesnya dengan tempat tinggal menjadi pilihan kami. Selain itu, aku sepertinya merasa lebih nyaman dengan dokter perempuan dan untungnya jadwal periksaku di hari sabtu terdapat satu obgyn perempuan.

Pertengahan November, hampir satu bulan kami menikah, merupakan kunjungan pertamaku ke rumah sakit. Setelah tiba di rumah sakit, cukup kaget dengan antrian di poli kebidanan (aku di urutan belasan, hampir 20), padahal kami tiba cukup pagi, sekitar pukul 08.30. Harus atur strategi di kontrol berikutnya kalau begini, walau secara keseluruhan dari semua kunjunganku kontrol kehamilanku selama ini rata-rata aku menghabiskan waktu untuk mengantri selama 2 hingga 3 jam (termasuk mengurus di bagian asuransi).

Pada saat kontrol kehamilan pertamaku, karena belum jelas terlihat melalui usg 2 dimensi, perawat memasukkan alat melalui vaginaku, istilahnya USG Intravaginal, dan dokter memastikan aku telah hamil, kantung kehamilan sudah terbentuk dan kehamilan berusia 8 minggu. Resep pertama dokter berupa suplemen tambahan untuk ibu hamil dan resep untuk obat mual. Selanjutnya dokter meminta untuk kontrol rutin kehamilan dilakukan tiap 4 minggu. Walau setelahnya, selama aku merasa tidak ada keluhan berarti, aku tidak begitu teratur benar-benar kontrol tiap bulan sekali. Waktuku cukup terbatas (terkadang hari sabtu aku masuk kerja). Selama trimester pertama aku cukup sering ke dokter. Selain karena keluhan muntah mualku, terkadang untuk memastikan bahwa aku dapat berpergian dengan pesawat.

Aku merasa cukup nyaman dengan dokter kandunganku, walau dokter hanya berbicara seperlunya saja. Tetapi selama hasil periksanya si dede baik-baik saja, aku juga tidak begitu banyak tanya macam-macam, mengingat diluar sana antrian yang rata-rata para bumil sudah panjang….:D.

Oiya untuk urusan biaya kontrol kehamilan ini, karena pada awal kami belum tahu prosedur mengurus asuransi dari kantor, kontrol pertama dan kedua tidak dicover asuransi. Total konsultasi dengan dokter, administrasi dan usg dengan film sebesar Rp 225.000, sedangkan jika hanya usg tapi tanpa film sebesar Rp 155.000. Kontrol berikutnya aku sudah membawa surat rujukan dokter keluarga, sehingga hanya mengeluarkan biaya Rp 15.000 untuk administrasi. Untuk suplemen tambahan tiap  bulan berkisar Rp 115.000.

Memasuki usia kehamilan 7 bulan, frekuensi kunjungan menjadi 2 minggu sekali. Kunjungan rutin hingga usia kehamilan 35 minggu, totalnya sudah 9x (2012: 17 Nov, 8 Des, 21 Des sedangkan di tahun 2013: 9 Feb, 16 Mar, 13 Apr, 1 Mei, 15 Mei, 29 Mei), selalu setia menunggu pangilan antrian..:D.

Bergelut dengan Mual Muntah

Trimester pertama kurasakan cukup berat, mual dan mual hampir menemani hari-hariku. Aku yang sebelum hamil merupakan pencinta kuliner dan tidak pernah pilih-pilih dalam hal makanan, cukup kaget dengan perubahan saat aku hamil. Hampir semua makanan, aku tidak bernafsu sama sekali. Aroma-nya, rasa-nya, semua-nya membuatku langsung mual dan muntah. Ditambah aku bekerja yang setiap hari menempuh perjalanan 45 menit ke kantor dengan motor dan selalu menemui kemacetan ibukota, membuatku makin merasa cepat lelah dan stress juga sepertinya.

Buah-buahan cukup membantuku, seperti pir dan semangka tidak terlalu sering kumuntahkan. Kupelajari pola makanku untuk memilih makanan apa yang tidak membuatku mual dan akhirnya muntah. Sayangnya, pola makananku tidak bisa menjadi acuan, pisang yang awalnya tidak membuat mual muntah, terkadang juga membuat aku mual dan muntah. Bertanya dengan teman yang sudah hamil juga kulakukan. Tapi sepertinya tidak cukup membantu. Hmm, kalau semua makanan sudah kutolak, aku pun merebus mie, yang terkadang membuat mual, tapi terkadang tidak.

Dokter sebenarnya sudah memberikan aku obat mual yang harganya cukup membuat kaget yah..:D. Awalnya obat ini cukup membantu mengusir mual, tapi kira-kira satu dan dua bulan kemudian, sudah ga mempan lagi. Akhirnya pasrah saja, jika mual dan ingin muntah,  yah dimuntahkan saja. Tapi tetap kupaksakan memakan apa saja supaya si dede tumbuh dan berkembang dengan baik. Suplemen dari dokter rutin kuminum, hehe, padahal aku orang yang sangat ga suka minum-minum kapsul dan semacamnya.

Memasuki akhir bulan ke-3 kehamilan, aku bersama suami harus kembali melakukan perjalanan, kali ini ke Chiangmay, kurang lebih 7 hari. Cukup deg-degan, karena mual dan muntah ku masih berlanjut, belum ada tanda berakhir. Setelah kembali berkonsultasi dengan dokter tentang perjalanan yang akan kutempuh, dokter memperbolehkan aku untuk dapat melakukan perjalanan. Berbekal banyak mie, abon, kecap dan biskuit-biskuit, aku berharap semoga mual dan muntahku sudah mulai berkurang selama disana. Setelah transit di Bangkok dan melanjutkan penerbangan domestik ke Chiangmay, kami pun tiba di penginapan di malam hari. Sangat lelah rasanya, tapi untunglah selama di pesawat aku baik-baik saja. Makanan yang diberikan pun kumakan walau tidak sanggup dihabiskan. Pekerjaan disana kami selesaikan tanpa masalah, udara yang segar disana dan suhu yang dingin jika sore dan malam hari, dan resort yang kami tempati dikelilingi pepohonan sangat membantuku. Kurasakan stressku hilang, dan mual muntahku juga hampir tidak muncul di 3 hari pertama selama disana. Makanan khas Thailand pun kumakan dengan cukup semangat, hmm.. sepertinya selera makanku sudah muncul kembali.

Tetapi setelah 3 hari disana nyaris tanpa keluhan akan hamil mudaku, hari-hari berikutnya karena mungkin secara fisik aku sudah mulai lelah, mual dan tidak nafsu makan kembali datang. Walau muntah tidak sesering sebelumnya. Niat kami untuk keliling kota Bangkok pun batal kami lakukan, setiba di Bangkok, aku langsung tepar di hotel transit, maaf yah suamiku, batal rencana melihat Bangkok di malam hari..:).

Hal lain selain mual dan muntah, yakni perubahan emosi. Suami banyak-banyak sabar deh menghadapi istrinya ini. Penyebab utama emosi yang berubah-ubah dan sangat moody karena pengaruh perubahan hormon yang terjadi terutama pada awal masa kehamilan. Fisik yang cepat terasa lelah juga karena asupan makanan yang kurang karena nyaris semua makanan membuat aku mual syukur-syukur tidak sampai muntah.

Memasuki bulan keempat, mual dan muntah mulai berkurang, dan pada bulan kelima kehamilan, nafsu makanku sudah kembali. Walau hanya sesekali saja mual dan muntah, tapi itu biasanya karena masuk angin. Oiya, tidur siang di jam istirahat kantor cukup membantu memulihkan tenaga, apalagi kalau sudah muntah-muntah dari pagi dan malamnya kurang tidur karena frekuensi pipis yang makin sering (yang pasti membangunkan di malam hari).

Keseluruhan, berat badanku turun 1,5 kg selama 4 bulan pertama itu. Huuufff..baru kurasakan saat hamil yang hampir semua makanan kutolak, padahal aku orang yang suka makan apa saja dan pencinta kuliner.

Feeling dan 3x Test Pack

2 minggu sebelum menikah ternyata mens terakhir ku..:), feeling bahwa sepertinya aku hamil telah kurasakan kira-kira dua minggu setelah kami menikah. Selain kondisi tubuh juga yang berbeda, cepat lelah dan terkadang pusing. Hmmm, yang juga mungkin akumulasi selesai acara pernikahan dan langsung berlanjut honeymoon ke Bali, yang ternyata bagi kami, Bali padat sekali dan panas untuk bersantai-santai, karena suami belum pernah ke Bali dan kami tidak bisa berlama-lama cuti, maka Bali menjadi pilihan kami. Untuk memastikan aku hamil, aku melakukan testpack hingga 3x…😀. Pertama, saat kami menginap di rumah seorang teman di Bogor. Aku diam-diam membeli alat testpack dan melakukan test tanpa suami ketahui. Maklum, ga mau membuat suami kecewa pikirku. Setelah membaca petunjuk dan melakukan tes, ternyata hasilnya negatif, tidak ada dua garis merah yang muncul..:(, sedikit kecewa tapi mungkin memang terlalu dini mungkin yah..:D. Tes kedua, kulakukan kira-kira seminggu setelah tes pertama di rumah, kali ini setelah  browsing dan banyak membaca share ibu-ibu, maka tes kedua, kulakukan pagi hari, pipis pertama setelah bangun tidur.

Salah satu garis tampak samar pada hasil test pack ke-2

Salah satu garis tampak samar pada hasil test pack ke-2

Hmm, hasil kedua sempat membuat bingung, karena salah satu garis hasilnya samar-samar merah. Setelah kubaca detail petunjuk testpack, bahwa tanda garis yang samar pun menandakan bahwa aku hamil. Karena awam dan tidak mau terlalu senang, aku masih belum percaya sepenuhnya. Aku bangunkan suamiku dan menunjukkan hasil test, tentu suami senang, berhubung suami berbeda 4 tahun dan merupakan anak tunggal, jadi harapan untuk segera mempunyai anak tentu sangat dinanti. Tapi tetap kubilang, garis kedua masih samar dan tunggu dulu sampai tes berikutnya untuk memastikan bahwa aku hamil. Dari hasil browsing ternyata pertanda dua garis walaupun salah satunya samar sebenarnya sudah menunjukkan bahwa itu pertanda hamil.

Aku dan suami bekerja di kantor dan devisi yang sama, hanya berbeda tim. Kira-kira seminggu berikutnya, kami harus melakukan survei lapangan ke Lombok. Cukup was-was, karena jika ternyata aku hamil muda berarti kandunganku masih rentan. Sedangkan pekerjaan kami banyak melakukan survei ke desa dan kawasan hutan, dimana kondisi akses jalan terkadang masih buruk dan terkadang menggunakan motor. Hampir 2 minggu kami berada di Lombok, kondisiku mudah lelah, begitu tiba di hotel aku terkadang istirahat awal. Untunglah semua diselesaikan dan sepertinya kondisiku baik-baik saja. Di malam terakhir sebelum kembali ke Jakarta, aku melakukan  testpack yang ke-3, hasilnya merah nyata kedua garisnya.

Kedua garis tampak jelas pada test peck berikutnya..^^

Kedua garis tampak jelas pada test pack berikutnya..^^

Yipppie!, ternyata beneran hamil..:), Alhamdullillah. feeling aku benar dari awal. Sampai ketemu kira-kira 9 bulan lagi yak Nak!